Oleh:Herry Bimantara
Ketua umum komunitas Arek Suroboyo Asli (ARSAS)
Surabaya || Radar Post
Belakangan ini, tensi sosial di Surabaya sedikit menghangat akibat dua isu utama yang viral di media sosial: Carut-marut parkir liar dan kasus perobohan rumah Nenek Eliana di Kuwukan.
Sebagai bagian dari Arek Suroboyo, kita perlu melihat ini dengan jernih agar tidak terpecah belah.
1. Akar Masalah & Dampak Media Sosial
– Sentimen Publik yang Terbakar: Media sosial seringkali hanya menampilkan potongan video tanpa konteks utuh. Dalam kasus Nenek Eliana,narasi yang berkembang di medsos memicu kemarahan publik sebelum ada penjelasan resmi mengenai duduk perkara sengketa lahannya.
– Gesekan di Lapangan: Isu parkir liar bukan sekadar masalah kemacetan, tapi masalah “perut” dan tertib niaga. Ketika warga merasa terbebani dan jukir merasa terdesak, medsos menjadi sumbu yang mempertemukan keduanya dalam konflik terbuka-
– Krisis Kepercayaan Jika respon pemerintah atau aparat lambat, konten viral akan mengambil alih peran “hakim” di mata masyarakat, yang berujung pada main hakim sendiri atau aksi massa
2.Analisa Konflik
– Isu terkait parkir liar yang menjadi pemicu konflik horizontal,yakni Ketidakteraturan tarif dan premanisme terselubung,Ketidaknyamanan publik,kemacetan, dan citra buruk kota.
– Kasus nenek Eliana,yang terkesan di blow up media.
Drama Sengketa kepemilikan lahan vs. rasa kemanusiaan (Nenek Eliana).
Solusi Menuju Surabaya yang Nyaman, Aman, dan Damai
Untuk mengembalikan marwah Surabaya sebagai kota yang humanis, ARSAS mengusulkan langkah-langkah strategis berikut:
A. Digitalisasi dan Penertiban Transparan
Pemerintah Kota harus mempercepat implementasi parkir non-tunai secara menyeluruh. Dengan sistem digital, celah pungli hilang, pendapatan daerah masuk dengan jelas, dan para jukir bisa dirangkul menjadi tenaga resmi yang terlindungi secara hukum dan ekonomi.
B. Mediasi Berbasis “Roso Suroboyo”
Kasus seperti di Kuwukan tidak boleh hanya diselesaikan di atas kertas hukum yang kaku. Perlu ada mediasi yang mengedepankan Asas Kemanusiaan dan Musyawarah.
– Pemerintah harus hadir sebagai penengah yang adil.
– Komunitas lokal dan ormas yang ada di surabaya harus berperan aktif meredam emosi warga agar tidak terprovokasi hoaks.
C. Literasi Digital untuk Arek-Arek Suroboyo
Kita perlu mengedukasi warga agar tidak “gampang panas” melihat video viral. Budaya Tabayyun (cek dan ricek) harus diperkuat sebelum membagikan ulang konten yang bersifat provokatif.
D. Penguatan Forum Pembauran Masyarakat
Mengaktifkan kembali cangkrukan-cangkrukan di tingkat RW untuk membahas isu lingkungan. Masalah parkir atau sengketa tetangga harusnya bisa selesai di level bawah sebelum menjadi bola panas di media sosial.













