Jakarta|| Radarpost.id
Film Baby Udon membawa kisah nyata Fanny Kondoh ke layar lebar. Film yang dijadwalkan tayang pada 3 September 2026 ini tidak hanya bercerita tentang perjuangan mendapatkan keturunan, tetapi juga menyentuh persoalan cinta, keluarga, kanker, hingga kehilangan orang yang dicintai.
Kisah Fanny sebelumnya dikenal melalui podcast Denny Sumargo. Dari perbincangan tersebut, cerita kehidupan Fanny kemudian berkembang menjadi sebuah proyek film.
Denny Sumargo yang terlibat sebagai produser sekaligus pemeran utama mengaku melihat ada cerita besar di balik pengalaman Fanny. Menurutnya, perjalanan tersebut berpotensi memberikan harapan bagi banyak orang yang tengah menghadapi persoalan serupa.
“Waktu aku mendengar ceritanya Fanny Kondoh itu, gimana ya, hatiku tuh bergetar. Terus pada saat Fanny podcast, aku melihat cerita ini bisa memberikan harapan untuk banyak orang, pejuang garis dua, dari aku salah satunya, lalu pejuang kanker, lalu single mother,” ujar Denny.
Dari Cerita Podcast ke Layar Lebar
Baby Udon berawal dari sebuah cerita personal yang dibagikan Fanny. Pengalaman tersebut kemudian menarik perhatian Denny hingga akhirnya muncul gagasan untuk membawanya ke medium film.

Menurut Denny, proses tersebut tidak berlangsung singkat. Pengembangan cerita memakan waktu sekitar satu tahun karena perjalanan hidup Fanny memiliki banyak sisi yang harus diseleksi agar dapat menjadi sebuah cerita film yang utuh.
“Perjalanan cukup panjang, satu tahunan. Hampir gagal. Jadi kesulitan kita itu adalah bagaimana nge-develop cerita ini yang hidupnya Fanny yang begitu luas itu kita kerucutkan bersama dengan Mbak Oka,” ujar Denny.
Tantangannya bukan sekadar memindahkan kisah nyata ke dalam skenario. Tim juga harus menentukan bagian mana yang menjadi inti cerita tanpa menghilangkan emosi dan pengalaman yang dialami Fanny.
Bukan Hanya soal Perjuangan Mendapatkan Anak
Salah satu isu yang menjadi bagian penting dalam Baby Udon adalah perjuangan mendapatkan keturunan atau yang kerap disebut sebagai perjuangan garis dua.
Namun, cerita film ini tidak berhenti pada persoalan tersebut. Perjalanan Fanny juga bersinggungan dengan penyakit kanker, kehidupan sebagai seorang perempuan, hubungan keluarga, serta kehilangan.
Keragaman persoalan itu membuat Baby Udon memiliki lapisan cerita yang lebih luas. Film ini mencoba melihat bagaimana seseorang bertahan ketika harapan, cinta, dan kehilangan datang dalam waktu yang berdekatan.
Bagi Denny, pengalaman tersebut membuat Baby Udon memiliki nilai lebih dibandingkan sekadar film drama.
“Saya lihat ini bukan hanya sekadar film. Ini adalah sebuah cerita, sebuah pengalaman, sebuah momen yang saya harap ikut bersama kalian pulang,” kata Denny.
Denny Sumargo Tak Merencanakan Jadi Pembuat Film
Keterlibatan Denny dalam proyek ini juga menjadi perjalanan tersendiri. Ia mengaku sebelumnya tidak pernah memiliki rencana untuk membuat film.
Namun, setelah mendengar kisah Fanny dan mendapat dorongan dari sang istri, Olivia, Denny mulai melihat kemungkinan bahwa cerita tersebut memang layak dibawa ke layar lebar.
“Gue itu nggak pernah pikir dan berharap bikin film. Jauh dari mimpi gue, gue nggak punya keinginan-keinginan itu. Tapi ketika istri gue meminta gue, gue merasa apa mungkin ada sesuatu yang Tuhan ingin sampaikan lewat medium rasa ini,” ujarnya.
Kini, cerita yang awalnya hadir melalui sebuah percakapan tersebut siap menemui penonton dalam bentuk film.
Baby Udon diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali arti perjuangan, keluarga, cinta, dan bagaimana seseorang menghadapi kehilangan dalam hidupnya.












