Jakarta|| Radarpost.id
Fenomena swadiagnosis atau self-diagnosis menggunakan platform digital semakin marak di kalangan anak muda urban Indonesia. Bahkan, hampir 60 persen anak muda lebih memilih mencari tahu penyakitnya lewat internet atau artificial intelligence (AI) dibanding langsung berkonsultasi ke tenaga kesehatan.
Hal itu terungkap dalam acara diskusi bersama rekan media yang digelar Health Collaborative Center (HCC) di Resto Beautika, Hang Lekir, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Studi Fenomena Swadiagnosis Anak Muda Urban di Indonesia”.
Ketua tim peneliti HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan perkembangan teknologi digital membuat akses masyarakat terhadap informasi kesehatan semakin mudah. Namun, kondisi tersebut memicu meningkatnya praktik swadiagnosis tanpa pemeriksaan medis yang benar.
“Enam dari sepuluh anak muda urban di Indonesia memilih melakukan self-diagnosis ketika pertama kali mengalami keluhan kesehatan. Mereka lebih dulu membuka handphone dan mencari tahu sakitnya dibanding pergi ke dokter,” kata dr Ray dalam paparannya.
Menurut dia, fenomena ini sudah masuk kategori isu kesehatan masyarakat. Sebab, berdasarkan standar epidemiologi global, perilaku kesehatan dengan prevalensi di atas 40 persen sudah dianggap sebagai potensi masalah kesehatan publik.
“Kalau memakai standar WHO, maka swadiagnosis di anak muda urban Indonesia sudah termasuk public health concern,” ujarnya.
Dalam penelitian tersebut, HCC melibatkan 448 responden dari 12 kota di Indonesia dengan dominasi usia produktif di bawah 40 tahun. Mayoritas responden berasal dari lima kota besar, termasuk Jakarta.
Hasil studi menunjukkan hampir seluruh responden mengakses internet melalui smartphone dan sebagian besar menghabiskan waktu lebih dari enam jam per hari menggunakan gadget.
Keluhan kesehatan yang paling banyak mendorong responden melakukan swadiagnosis adalah gangguan pernapasan, nyeri dada atau keluhan kardiovaskular, serta gangguan pencernaan.
“Yang mengejutkan justru bukan masalah mental yang paling dominan dicari, melainkan penyakit klinis organik seperti sesak napas, batuk, nyeri dada, dan sakit perut,” jelasnya.
Dr Ray menilai praktik swadiagnosis digital berisiko tinggi menimbulkan kesalahan diagnosis. Ia menyebut sekitar 80 persen hasil self-diagnosis cenderung tidak akurat karena algoritma digital tidak bekerja seperti dokter yang melakukan pemeriksaan bertahap.
“Diagnosis medis itu ada lima tahap. Mulai dari wawancara keluhan utama, pemeriksaan fisik, inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, hingga pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Algoritma digital melewati semua proses itu,” katanya.
Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang terlalu percaya pada hasil pencarian digital sehingga mengabaikan rekomendasi tenaga kesehatan.
Dalam studi tersebut, sekitar 27 persen responden mengaku pernah mengabaikan resep atau saran dokter setelah merasa diagnosis digital yang mereka dapatkan sudah benar. Selain itu, 36 persen responden memilih mengobati diri sendiri berdasarkan hasil swadiagnosis.
“Ketika seseorang merasa hasil self-diagnosis-nya benar, mereka punya risiko dua kali lebih besar mengabaikan rekomendasi dokter dan melakukan pengobatan sendiri,” ungkapnya.
Dr Ray menilai pemerintah perlu segera membuat regulasi khusus terkait penggunaan alat dan platform digital untuk swadiagnosis kesehatan di Indonesia.
“Di negara maju, tools digital kesehatan sudah diatur dan divalidasi. Indonesia baru mulai masuk lewat PP Tunas. Sudah saatnya ada regulasi khusus terkait self-diagnosis digital karena dampaknya bisa serius terhadap sistem kesehatan,” pungkasnya.













