|| JAKARTA || RADARPOST.ID ||
Polemik terkait tuduhan ijazah palsu yang ditujukan kepada Presiden RI ke-7, Joko Widodo, kembali mencuat dan memicu kontroversi di ruang publik. Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Rumah Kreasi Indonesia Hebat (RKIH), Kris Budihardjo, yang dikenal sebagai salah satu pendukung setia sekaligus sahabat dekat Jokowi, angkat bicara. Ia menyebut tudingan tersebut sebagai narasi yang dibangun untuk mendiskreditkan Indonesia dan menjatuhkan sosok pemimpin nasional yang memiliki pengaruh besar di mata dunia.
“Kalau dipikir secara logika, mana mungkin seseorang bisa lima kali ikut pemilu — dari wali kota, gubernur, hingga presiden dua periode — tanpa melalui verifikasi ijazah yang ketat? Ini bukan semata soal ijazah, tapi ada motif besar untuk menciptakan kesan negatif terhadap Indonesia,” ujar Kris saat ditemui di Jakarta, Selasa (7/5).
Kris menilai, isu ini digulirkan oleh sekelompok kecil yang tidak senang melihat kemajuan Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi. Menurutnya, keberhasilan Jokowi dalam membawa nama Indonesia ke panggung internasional justru menjadi ancaman bagi pihak-pihak tertentu. “Ada yang bahkan menyebut SD, SMP, dan SMA-nya Pak Jokowi palsu. Ini kan menggelikan dan jauh dari nalar sehat. Ketika orang mulai datang ke rumah pribadi dan ke UGM untuk menuntut bukti, itu sudah melewati batas,” tegasnya.
Ia juga memperingatkan potensi konflik sosial akibat penyebaran isu yang tidak berdasar tersebut. “Masyarakat harus berhati-hati. Dalam budaya Jawa ada falsafah ‘nyari bumi paling pagi’ — kehormatan dan keluarga adalah hal yang sangat dijaga. Kalau terus dipancing, bisa memicu perlawanan. Jangan sampai ada gesekan horizontal karena isu yang absurd,” tambah Kris.
Lebih lanjut, Kris menduga ada pihak-pihak besar di balik isu ini yang memiliki agenda terselubung. “Ini bukan sekadar serangan terhadap individu, tapi ada desain besar untuk menjatuhkan reputasi bangsa. Kita harus mewaspadai kelompok dengan jaringan internasional yang tidak ingin Indonesia tampil sebagai kekuatan global,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Kris Budihardjo mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi. “Kita harus tetap tenang dan bijak. Lawan narasi negatif dengan prestasi dan fakta. Jangan biarkan Indonesia dinilai dari gosip yang tidak berdasar,” pungkasnya.













