Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Refleksi 27 Tahun Reformasi: Aktivis 98 Soroti Komitmen Pemerintah dalam Pemberantasan KKN dan Kesejahteraan Rakyat

banner 120x600

|| JAKARTA || RADAR POST.ID || 

Dalam rangka memperingati 27 tahun gerakan Reformasi 1998, sekelompok aktivis 98 menggelar diskusi publik bertajuk “Refleksi 27 Tahun Reformasi: Pemerintahan yang Bebas dan Bersih KKN, Mimpi atau Kenyataan?”. Kegiatan ini berlangsung Jumat siang di Rumah Makan Handayani, Matraman, Jakarta Timur.

Acara menghadirkan Wakil Menteri Tenaga Kerja Immanuel Ebenezer—yang akrab disapa Noel—sebagai pembicara kunci. Dalam sambutannya, Noel menekankan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesungguhan dalam upaya pemberantasan korupsi, yang tercermin dari penindakan terhadap pihak-pihak yang selama ini dianggap kebal hukum.

“Banyak pihak yang selama ini tidak tersentuh hukum, kini mulai diproses. Ini adalah bukti bahwa pemerintahan Prabowo serius dalam perang terhadap korupsi, bukan sekadar retorika,” ujar Noel.

Meski demikian, Noel juga menggarisbawahi sejumlah tantangan besar yang masih dihadapi, khususnya dalam sektor ketenagakerjaan. Ia menyebutkan bahwa angka pengangguran yang masih menyentuh 7,2 juta jiwa harus menjadi perhatian serius pemerintah.

“Ini angka yang tidak bisa dianggap enteng. Pemerintah tidak boleh terjebak pada isu-isu artifisial dan melupakan substansi persoalan yang menyentuh langsung kehidupan rakyat,” tambahnya.

Salah satu isu yang turut mencuat dalam diskusi adalah insiden membludaknya peserta bursa kerja (job fair) di Kota Bekasi, yang berujung pada ketidaknyamanan dan kekecewaan publik akibat keterbatasan tempat dan kurangnya manajemen teknis. Noel menyayangkan kurangnya koordinasi dan meminta adanya evaluasi menyeluruh.

“Kita tidak bisa saling menyalahkan, tapi ini menjadi koreksi penting bagi semua pihak, terutama pemerintah daerah dan perusahaan penyelenggara,” tegasnya.

Terkait praktik diskriminasi dalam rekrutmen tenaga kerja, seperti batas usia, status pernikahan, hingga penampilan fisik, Noel menegaskan bahwa Kementerian Tenaga Kerja tengah melakukan evaluasi atas kebijakan dan praktik tersebut. Ia menilai bahwa syarat-syarat semacam itu tidak relevan untuk sebagian besar sektor industri.

“Industri bukan tempat mendiskriminasi. Ini bukan industri pelacuran yang butuh ‘good looking’,” tandasnya dengan nada kritis.

Diskusi ini dipandu oleh Bandot Malera (Aktivis 98 – Perbanas), dan menghadirkan sejumlah pemantik dan narasumber dari berbagai kampus serta organisasi, antara lain Aznil Tan (Aktivis 98 – UMB), Antonius Danar (Perbanas), M. Ridwan (UPN Veteran), Ahmad Nasir (Universitas Assafi’iyah), Joko Priyoski (UNAS), Ucok Sky Khadafi (UNIJA), dan Hasanuddin (Pijar Indonesia).

Para aktivis sepakat bahwa cita-cita reformasi belum sepenuhnya terwujud. Namun, semangat untuk menjaga demokrasi dan mengawal pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap menyala.

“Kita boleh kecewa, tapi tidak boleh berhenti berharap dan berjuang. Reformasi adalah proses panjang yang harus terus dikawal,” tutup Bandot dalam sesi akhir diskusi.