Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Royen Pono vs Ahmad Dhani: Ketegangan Memuncak dalam Perdebatan Hak Cipta

banner 120x600

|| JAKARTA || RADARPOST.ID ||  – Suasana panas menyelimuti perhelatan debat terbuka bertema “UU Hak Cipta” yang digelar FESMI dan PAPPRI pada Rabu, 10 April 2025 di Artotel Senayan, Jakarta. Di tengah diskusi yang diharapkan menjadi ruang dialog konstruktif, pernyataan Royen Pono terhadap Ahmad Dhani memicu ketegangan dan memunculkan reaksi keras dari publik dan komunitas musik.

Royen Pono, salah satu musisi yang turut hadir, menyampaikan unek-unek pribadinya secara terbuka. Dalam pernyataannya, Royen menyinggung masalah kehormatan keluarga dan harga diri yang menurutnya terusik oleh pernyataan atau sikap Ahmad Dhani dalam konteks perdebatan royalti.

“Gue cuma ingin keadilan. Ini udah bukan sekadar debat soal undang-undang, tapi menyangkut nama baik keluarga gue di Kampung Ambon dan NTT. Mereka sudah ngamuk karena merasa tersinggung. Gue juga nggak bisa nahan ini karena udah menyangkut harga diri orang Timur,” tegas Royen dalam sesi pernyataannya pukul 17.04 WIB.

Royen menilai pendekatan Ahmad Dhani dalam komunikasi publik terlalu kasar dan tak semua orang bisa menerimanya. “Gaya komunikasi dia itu bukan gaya semua orang. Ada budaya Timur, ada Jawa, Sunda, Batak – semua punya cara sendiri. Kalau terus seperti ini, kita makin jauh dari titik temu,” katanya.

Ia juga mempertanyakan ketulusan permintaan maaf yang sempat muncul dalam perbincangan di grup komunikasi internal. “Jangan sampai permintaan maaf itu cuma strategi, bukan niat tulus. Gue dapat kabar keluarga besar gue bahkan udah bikin petisi, dan bisa aja ini dibawa ke jalur hukum,” ujar Royen dengan nada serius.

Meski begitu, Royen mengaku tetap menghargai perbedaan pendapat. “Gue tetap kritis, tapi itu bagian dari fungsi gue di komunitas musik. Kalau kita nggak bisa bersatu secara fundamental, setidaknya kita tahu mana yang benar-benar punya niat baik untuk perubahan.”

Ia juga menyentil bahwa persoalan hak cipta harus dilihat dari sistem yang lebih luas, bukan sekadar menyalahkan penyanyi. “Kalau sistem kita sehat, nggak akan ada konflik kayak begini. Tapi kalau penyanyi terus disudutkan, itu bukan solusi,” lanjutnya.

Di akhir pernyataan, Royen sempat menyampaikan belasungkawa kepada salah satu keluarga musisi yang disebut-sebut dalam pembicaraan sebelumnya, dan menyatakan harapan agar para pencipta dan pelaku musik Indonesia mendapat tempat yang layak secara hukum dan sosial.

Sementara itu, Ahmad Dhani belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Royen. Namun sumber dari pihak panitia menyebut bahwa komunikasi antar pihak sedang diupayakan agar tidak terjadi eskalasi lebih lanjut.

Debat yang semula bertujuan untuk memperbaiki tata kelola ekosistem musik Indonesia kini berubah menjadi ajang pertarungan gagasan dan identitas. Apakah ini akan membawa perubahan nyata atau justru memperlebar jurang konflik? Waktu yang akan menjawab.