Jakarta || Radarpost.id
Krisis iklim bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari kenaikan harga pangan, cuaca yang tidak menentu, hingga persoalan energi, dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat. Berangkat dari kondisi tersebut, komunitas Buibu Baca Buku (BBB) terus mengajak para ibu untuk menjadi bagian dari solusi melalui gerakan literasi iklim berbasis keluarga.
Komitmen itu diwujudkan melalui program Climate Literacy for Mothers yang telah berjalan sejak 2024 dan kini memasuki tahun ketiganya. Sebagai bagian dari perjalanan tersebut, BBB menggelar acara “Buibu Berdaya Bumi: Dari Literasi Jadi Aksi” di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (30/5/2026).
Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Buibu Baca Buku, Puty Puar, mengatakan bahwa selama dua tahun terakhir program tersebut telah menjangkau hampir 9.000 penerima manfaat dan berkolaborasi dengan lebih dari 100 komunitas lokal serta Taman Baca Masyarakat di 16 provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua Selatan.
Menurut Puty, pendekatan yang digunakan sengaja dibuat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari agar isu iklim lebih mudah dipahami oleh keluarga, khususnya para ibu.
“Kadang ibu-ibu merasa isu perubahan iklim itu rumit dan jauh dari kehidupan mereka. Padahal yang pertama kali merasakan dampaknya justru ibu-ibu, misalnya ketika harga beras naik atau ketika terjadi gangguan energi di rumah. Karena itu kami mencoba menghadirkan isu iklim dengan bahasa yang dekat dengan keseharian,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, BBB bermitra dengan komunitas literasi dan taman baca yang telah aktif memberdayakan anak-anak di daerah masing-masing. Komunitas tersebut mendapatkan buku bertema lingkungan, pelatihan membaca nyaring (read aloud), hingga dukungan dana aktivasi untuk menjalankan kegiatan di wilayahnya.
“Kami tidak datang membangun komunitas baru. Kami bekerja sama dengan taman baca dan komunitas yang sudah bergerak lebih dulu. Mereka memiliki inisiatif luar biasa, hanya saja sering kali terkendala sumber daya dan jangkauan,” kata Puty.
Para pengelola komunitas diberikan pelatihan secara daring mengenai teknik membacakan buku serta cara menjelaskan isu lingkungan dan sampah dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.
Menurut Puty, pengalaman selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa pada dasarnya semua anak menyukai buku dan senang dibacakan cerita. Tantangannya bukan pada minat anak, melainkan pada akses terhadap bacaan yang menarik dan dukungan lingkungan di sekitarnya.
“Kalau ditanya apakah anak-anak suka dibacakan buku, jawabannya iya. Semua anak suka. Yang menjadi tantangan adalah akses terhadap buku yang menarik dan bagaimana orang dewasa di sekitarnya ikut terlibat,” ujarnya.
Ia menilai tantangan terbesar saat ini justru datang dari penggunaan gawai yang semakin masif, baik pada anak maupun orang tua.

“Anak sulit diajak membaca kalau di rumah orang tuanya juga terus memegang gawai. Anak membutuhkan teladan. Karena itu literasi bukan hanya tugas anak, tetapi juga tanggung jawab orang tua untuk memberikan contoh,” katanya.
Puty bahkan menyoroti pentingnya mengembalikan aktivitas membaca buku fisik dan menulis tangan dalam proses pembelajaran. Menurutnya, sejumlah negara dengan sistem pendidikan maju mulai kembali mendorong metode tersebut karena dinilai lebih efektif dalam membangun kemampuan literasi dasar anak.
Selain diskusi mengenai literasi dan keluarga, acara “Buibu Berdaya Bumi” juga menghadirkan beragam pembahasan mengenai pangan berkelanjutan, transisi energi, kota bebas polusi, hingga pendidikan karakter peduli lingkungan.
Sejumlah narasumber yang hadir antara lain Agus P. Tampubolon dari IESR, Gina Karina dari Koalisi Sistem Pangan Lestari, Muhammad Gibraltar Elmalik (Kapten Kepik), Delih Ratnasari, Roosie Setiawan, serta Ranggi Kanya.
Pada kesempatan tersebut, BBB juga meluncurkan dua buku terbaru dalam Seri Keluarga Panik, yakni “Dari Mana Listrik Berasal?” dan “Makan Apa Hari Ini?”. Kedua buku tersebut dirancang untuk membantu anak-anak dan keluarga memahami isu energi serta sistem pangan melalui cerita dan ilustrasi yang menarik.
Puty berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar kepada komunitas literasi dan taman baca yang selama ini telah bergerak secara mandiri di berbagai daerah.
“Di seluruh Indonesia ada begitu banyak taman baca dan komunitas yang bekerja luar biasa meski dengan sumber daya terbatas. Jika mereka mendapatkan dukungan dan ruang kolaborasi yang lebih besar, dampaknya akan sangat besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui gerakan literasi iklim yang melibatkan keluarga dan komunitas, Buibu Baca Buku berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa aksi menghadapi krisis iklim dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana di rumah, melalui buku, percakapan, dan kebiasaan sehari-hari.













