Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Dari Jalanan untuk Kemanusiaan: Juru Parkir Tebar Harapan di SLB Negeri 10 Jakarta

Dari Jalanan untuk Kemanusiaan: Juru Parkir Tebar Harapan di SLB Negeri 10 Jakarta
Dari Jalanan untuk Kemanusiaan: Juru Parkir Tebar Harapan di SLB Negeri 10 Jakarta
banner 120x600

Pagi yang cerah, suasana SLB Negeri 10 Jakarta terasa berbeda. Tidak ada panggung megah, tidak pula rangkaian acara seremonial. Yang hadir justru kesederhanaan dan dari situlah kehangatan lahir.

Sejumlah juru parkir melangkah masuk ke lingkungan sekolah dengan langkah pelan dan senyum tulus. Tangan yang sehari-hari mengatur kendaraan di jalanan kota, pagi itu menggenggam snack dan susu untuk dibagikan kepada anak-anak penyandang disabilitas, bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Nasional 2025.

Tanpa kata-kata besar, para jukir membagikan bingkisan satu per satu. Anak-anak menyambut dengan tawa polos, tatapan malu-malu, bahkan pelukan spontan. Ada yang memegang bingkisan itu erat, seolah sedang menggenggam hadiah terindah yang pernah mereka terima.

Di sudut halaman sekolah, Kepala SLB Negeri 10 Jakarta, Bahrun, berdiri dengan mata berkaca-kaca menyaksikan pemandangan itu.

“Bagi anak-anak kami, kehadiran mereka bukan sekadar soal makanan. Ini tentang rasa diterima, dihargai, dan diakui sebagai manusia seutuhnya,” ujar Bahrun lirih, Kamis (18/12/2025).

Menurutnya, kunjungan para juru parkir menjadi pelajaran kemanusiaan yang nilainya jauh melampaui materi. Mereka yang sehari-hari bekerja di kerasnya jalanan justru hadir membawa empati yang utuh.

“Kadang yang tidak punya justru memberi paling tulus,” katanya.

Bahrun mengungkapkan, anak-anak disabilitas kerap berhadapan dengan tembok bernama stigma—dipandang sebelah mata, disisihkan, bahkan dilupakan. Namun pagi itu, tembok itu runtuh. Yang tersisa hanyalah tawa, pelukan, dan kehangatan yang mengalir tanpa sekat.

“Anak-anak ini tidak meminta dikasihani. Mereka hanya ingin dipeluk oleh kemanusiaan,” ucapnya.

Kegiatan sederhana tersebut meninggalkan jejak yang dalam. Tidak hanya bagi para siswa, tetapi juga bagi guru, orang tua, bahkan para juru parkir itu sendiri. Saat acara usai dan bingkisan habis dibagikan, beberapa jukir terlihat menunduk sejenak, memanjatkan doa dalam diam sebelum kembali ke jalanan—ke rutinitas yang keras namun kini terasa lebih bermakna.

Hari Disabilitas Nasional 2025 di SLB Negeri 10 Jakarta menjadi saksi bahwa kepedulian tidak diukur dari jabatan, seragam, atau penghasilan. Cinta kasih tumbuh dari keberanian untuk hadir, berbagi, dan melihat sesama sebagai manusia yang setara.

Di sekolah itu, pada hari itu, air mata yang jatuh bukan tanda keputusasaan—melainkan bukti bahwa kemanusiaan masih hidup, tumbuh, dan berdenyut dari tempat yang paling sederhana.