Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Dari Cuci Ompreng ke Harapan Baru: Pemuda Bengkulu Bangkit Hidupi Empat Adik

Exsa Sarfalin, relawan pencuci ompreng, kini menjadi tulang punggung keluarga setelah orang tuanya berpisah.(Ist)
banner 120x600

Bengkulu|| Radarpost.id

Di balik dapur sederhana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Padang Serai, kisah perjuangan seorang pemuda 21 tahun menjadi potret ketangguhan generasi muda menghadapi kerasnya hidup. Exsa Sarfalin, relawan pencuci ompreng, kini menjadi tulang punggung keluarga setelah orang tuanya berpisah.

Suara gemericik air dan denting peralatan makan menjadi irama keseharian Exsa Sarfalin di dapur SPPG Padang Serai, Bengkulu. Di tempat itulah ia menjalani pekerjaan yang tampak sederhana, namun sarat makna: mencuci ratusan ompreng demi keberlangsungan program pemenuhan gizi.

Di usia yang masih muda, Exsa memikul tanggung jawab besar. Ia menghidupi empat adiknya yang masih bersekolah serta membantu menopang kehidupan neneknya yang telah berusia 80 tahun.

Sebelum bekerja di SPPG, hidup Exsa diliputi ketidakpastian. Ia menjalani berbagai pekerjaan serabutan, mulai dari kernet, buruh bangunan, hingga pekerjaan lepas lainnya. Penghasilan yang tak menentu membuatnya kerap cemas memenuhi kebutuhan harian keluarga yang mencapai sekitar Rp100.000 per hari.

“Kadang kerja dua hari sekali. Penghasilan tidak pasti, sementara adik-adik harus tetap sekolah,” ujarnya.

Titik balik hidupnya terjadi saat kedua orang tuanya berpisah. Kondisi ekonomi keluarga yang sebelumnya relatif terpenuhi berubah drastis. Ia dipaksa mandiri dalam waktu singkat.

“Kalau belum siap, ya harus siap,” kata Exsa.

Di tengah tekanan hidup, sosok nenek menjadi tempatnya berbagi cerita. Hingga suatu hari, ia melihat bangunan di dekat rumahnya direnovasi. Rasa penasaran membawanya mengetahui bahwa lokasi tersebut akan menjadi SPPG.

Tanpa ragu, Exsa mendaftar dan diterima bekerja. Sejak saat itu, kehidupannya mulai berubah.

Dengan sistem gaji dua mingguan, ia kini memiliki kepastian penghasilan. Hal ini memungkinkannya mengatur keuangan lebih baik, mulai dari membeli kebutuhan pokok hingga membiayai pendidikan adik-adiknya.

“Sekarang tidak terlalu khawatir lagi soal besok dapat uang atau tidak,” ujarnya.

Tak hanya dari sisi pekerjaan, keluarganya juga merasakan manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis. Keempat adiknya kini mendapatkan makanan di sekolah, sehingga pengeluaran harian bisa ditekan.

Menurut Exsa, perubahan juga terlihat pada kondisi fisik dan aktivitas adik-adiknya yang menjadi lebih sehat dan aktif.

Meski demikian, ia tetap mengajarkan rasa syukur kepada adik-adiknya, termasuk saat mereka mulai bosan dengan menu yang berulang.

Bagi Exsa, pekerjaan di SPPG bukan sekadar sumber penghasilan. Lebih dari itu, kehadiran program yang digagas oleh Badan Gizi Nasional tersebut menjadi simbol harapan baru.

Di tengah keterbatasan, ia menemukan pijakan untuk bangkit—pelan, namun pasti.

Kisah Exsa menjadi cerminan bahwa di balik program pemerintah, terdapat cerita-cerita kecil yang membawa dampak besar. Dari dapur sederhana di Bengkulu, harapan itu tumbuh—bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga masa depan keluarganya.