Cepat dan Akurat Hadirkan Fakta
Login

Seni Tutur Sunda Dihidupkan Kembali Lewat Program “Sunda Nyambung Ka Jaman”

banner 120x600

Radarpost.id||Bogor, Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah pola komunikasi masyarakat, seni tutur Sunda kini menghadapi tantangan serius untuk tetap relevan. Menjawab kondisi tersebut, digagas sebuah program bertajuk “Sunda Nyambung Ka Jaman” yang berupaya menghidupkan kembali tradisi lisan melalui pendekatan modern berbasis performatif.

Program ini diinisiasi oleh R. Rama Sastra Negara dengan mengusung metode TAPSSAM (The Art of Public Speaking & Storytelling with Acting Method), yakni pendekatan yang menggabungkan teknik public speaking, storytelling, serta seni peran dalam satu kesatuan ekspresi.

Menurut Rama, seni tutur tidak sekadar teknik berbicara, melainkan praktik budaya yang hidup dan sarat makna. “Dalam tradisi kita, bertutur adalah laku yang hidup—ia bernapas, memiliki rasa, dan menjadi medium penyampaian nilai,” ujarnya.

Melalui metode TAPSSAM, komunikasi tidak hanya dipahami sebagai penyampaian informasi, tetapi juga sebagai pengalaman artistik yang melibatkan tubuh, suara, serta emosi. Pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara tradisi lisan dengan kebutuhan komunikasi generasi masa kini.

Program “Sunda Nyambung Ka Jaman” akan diselenggarakan pada 26–28 Juni 2026 di Bogor, Jawa Barat, dalam bentuk pelatihan intensif selama tiga hari. Kegiatan ini mencakup pembelajaran metode, praktik seni tutur berbasis akting, eksplorasi vokal dan ekspresi, hingga mini pertunjukan sebagai ruang aktualisasi peserta.

Selain pelatihan, program ini juga menargetkan luaran strategis berupa penyusunan modul digital (e-book), produksi video dokumentasi praktik seni tutur kontemporer, serta penguatan jejaring pelaku storytelling berbasis budaya lokal.

Pelaksanaan program ini didukung oleh tim lintas disiplin yang terdiri dari R. Rama Sastra Negara sebagai penanggung jawab kegiatan sekaligus fasilitator utama.

Dalam aspek artistik dan materi, turut terlibat Mohammad Abdul Latief (praktisi seni tutur/pendongeng), Drajat Iskandar (dalang), Faridsyah Zikri (pelatih akting utama), serta Boy Idrus (pelatih akting). Sementara itu, pengembangan materi dan modul ditangani oleh Nurmuhammad Dian sebagai penulis modul dan penyunting, bersama Erman Soelaeman sebagai konsultan artistik dan editor modul

Kolaborasi lintas peran ini menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan pendekatan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan kontekstual dalam pengembangan seni tutur.

Lebih dari sekadar pelatihan, program ini diposisikan sebagai model pengembangan kebudayaan berbasis metode yang tidak hanya melestarikan, tetapi juga mentransformasikan tradisi menjadi praktik hidup yang relevan dan berkelanjutan.

Di tengah kebutuhan akan model pendidikan kontekstual dan berakar pada budaya, inisiatif ini diharapkan membuka ruang baru bahwa warisan lokal tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga dikembangkan sebagai sistem pengetahuan dan metode komunikasi yang mampu menjawab tantangan zaman.

 

Email:sundanyambungkajaman@gmail.com

Instagram:@Sundanyabungkajaman

Titok:@Sundanyabungkajaman

Youtube:@Sundanyabungkajaman